Blog

Blog adalah satu dari sekian wadah dan ruang dijejaring sosial yang aku pilih untuk melukiskan segala perasaanku sejak 2009,namun website pertamaku di blogspot,tidak bisa aku akses lagi karena aku lupa password dan aku males ngutak ngatik (me reset password dll),akhirnya blog pertamaku berlalu begitu saja. Sekitaran tahun 2012/2013 an,aku kembali membuat blog dengan akun baruku hingga sekarang.

Blog memberiku ruang untuk menitipkan begitu banyak “rasa”. Ya,banyak rasa,rasa yang terkadang hanya bisa aku titipkan disini dan tak bisa kutitipkan kepada siapapun,dengan menulis disini,kadang aku menemukan ruang lebih untuk menghela nafas,kadangpun mengeluh (tanpa guna)😁,begitulah……

Terima kasih waktu

Apa yang akan kamu katakan saat ini,saat kamu flashback pada masa itu masa lalu masa yang telah lalu,masa dimana semua hal telah berlalu.

Aku sudah katakan! Setiap saat,setiap aku mengingat masa itu,jawabanku adalah “terima kasih pada waktu”. Waktu telah membawaku kepada saat ini,aku sedang berada dimasa ini,masa dimana aku tengah berada. Kelak,aku akan katakan apa dikemudian hari,esok atau nanti saat aku ditanya hal yang sama,aku akan katakan hal yang sama yaitu “terima kasih pada waktu”. Ya,lagi dan lagi,akan aku katakan itu sebab waktulah yang telah membawa aku kepada masa demi masa dan ditiap masanya aku telah banyak diberi pelajaran berharga akan perjalanan hidupku,ada yang baik,ada pula yang buruk,keduanya memberiku pelajaran,aku belajar pada keduanya dan waktulah yang telah memberiku kesempatan untuk merubahnya.

Terima kasih waktu karena telah memberiku banyak kesempatan untuk menjadi manusia yang terus berbenah diri walau semua itu teramat sulit namun aku semakin sadar akan rasa syukur dan bersyukur bahwa setiap rasa syukur kepadaNya maka ia akan terus menambah nikmat yang lebih dan lebih lagi. Aku mensyukuri setiap rasa yang aku rasakan,ya rasa sehat ataupun sakit,ya rasa sulit apalagi mudah,aku sadar bahwa hanya kepadaNyalah tempatku mengadu,IA Maha Tahu dan mengetahui segala apapun yang terjadi kepada diri kita,IA tempatku meminta apapun bahkan IA maha mendengar atas setiap apapun yang menjadi keluhanku bahkan saat aku tak sempat mengucap dan mengadu kan nya padaNya.

Terima kasih sang pemilik waktu ,Allah swt,atas kehendakMu semua hal menjadi mungkin.

Jangan terjebak dalam cerita yang sama

Boleh jadi kita saat ini masih hidup dengan orang yang sama,kamu dengannya,aku dengannya. Namun apakah hidup kitapun akan tetap sama? Tidak bukan? Hidup ini kan pasti berubah. Tak perlu kita harus menunggu waktu lama,sebab detik berikutnya akan memberi cerita yang berbeda walau kamu masih berada didalam ruang dan rutinitas yang sama,dengan orang dan lingkungan yang sama.

Boleh jadi saat ini kita masih berada didalam cerita yang sama tapi aku yakin ada kisah-kisah berbeda ditiap episodenya kehidupan dan cerita itu adalah yang disebut perubahan,perubahan kearah yang lebih dan hidup ini sejatinya tanaman ia diharapkan tumbuh dan berkembang dikemudian hari.

Boleh jadi saat ini kamu,aku,dan kita semua masih hidup dengan orang yang sama,mungkin dengan suami,isteri,kekasih,teman,sahabat yang tak pernah berganti,masih dengan orang-orang yang sama. Lalu,apakah cerita hidup kita pun masih sama???? Tidak bukan? Walau kita masih dengan orang yang sama tak berarti cerita perjalanan hidup ini terus sama. Kita akan terus hidup dengan harapan walau kita masih dengan orang yang sama,bersamanya kita melalui dan melewati semua proses kehidupan ini,ada yang tengah bermimpi,ada yang terus bermimpi bakan ada yang sedang menjalani proses terwujudnya mimpi yaitu menikmatinya bersama. Sepasang suami isteri setiap saat bersama,melewati hari demi hari bersama-sama,menjani kehidupan bersama dan membangun harapan bersama dan harapan itulah yang dimaksud bahwa kita tidak terjebak dalam sesuatu yang sama sebab hidup ini adalah perjalanan,kita akan terus bergerak mencapai dan menggapai harapan. Seorang ibu mendambakan seorang anak,ia menanti kehamilan,lalu hamil,lantaspun melahirkan,membesar dan mendidiknya berharap dan terus berharap sianak tumbuh besar menjadi anak yang bisa diharapkan,ada yang melewati proses itu dengan orang yang sama ada pula yang tak diduga harus melewatinya tanpa kebersamaan namun harapan itu masih sama walau cerita itu menjadi berbeda.

Boleh jadi,seorang teman dan sahabatmu masih terus dengan teman dan sahabatnya yang juga itu-itu juga (orangnya),namun aku yakin didalam perjalanan pertemanan dan persahabatannya,mereka terus membangunnya dengan harapan,mimpi dan impian. Jika temanmu atau sahabatmu tidak bisa diajak bermimpi maka tinggalkanlah dia sebab dia tak akan membawa kebaikan untukmu. Lalu bagaimana dengan pasangan hidupmu? Jika ia tak bisa diajak membangun mimpi bersama??? Jawabannya adalah apakah dia membawa lebih kepada kebikan ataukah memberimu lebih kepada kekurangan dan keputusanmu ada padamu sebab hidup yang kamu jalani adalah kamu yang tahu dan orang lain tak pernah tahu apapun manis dan pahitnya kehidupan yang kamu jalani

Wujud

Wujud manusia akan bisa kamu lihat dari “bibirnya,warnanya,caranya,dan lain sebagainya.Tak perlu kita mengggali pikiran terlampau dalam untuk sekedar tahu siapa dia dan bagaimana dia.Lihat saja pada wujudnya sebab wujud yang kamu lihat sedikit banyak mewakili pikirannya.Walau kita hanya melihat sedikit dari wujud nyatanya justru itu sudah cukup memberi kesimpulan pada dirinya,sebab yang nampak sedikit itu yang ditampakan sementara yang besarnya justru disembunyikan tapi justru yang tampak sedikit itu menjadi jawaban bahwa yang tersembunyi,jauh lebih dari yang sedikit tadi.Memanglah benar terkadang pepatah mengatakan,dont judge a book by cover,artinya jangan menilai buku dari cover nya atau halaman depannya,istilah itu bisa dibenarkan bisa pula menjadi tidak relevan pada beberapa hal dan bagian,artinya istilah itu mungkin ada benarnya tetapi juga tidak bisa menjadi kesimpulan benar untuk semua hal,dengan kata lain,memang tidak semua hal dapat dinilai dari tampilannya,perilakunya,peribahasanya dll tetapi mungkin 10 dari 100,10 itu benar dan 90 itu salah.Wujud manusia yang sesungguhnya adalah 90 adalah mask dan 10 adalah mendekati benar

cinta yang tersisa (bag.1)

Sudah menjadi target dan impian semua manusia dimuka bumi ini bahwa setiap orang pasti punya harapan dan keinginan,harapan dan keinginan itu terus menjadi mimpi saat belum terwujud dan tercapai.

Apa harapanmu dihari ini?

Apa mimpimu dihari depan?

Apa cita-citamu dikemudian hari?

Apa yang tertulis diatas,kesemuanya ada didalam angan dan pikiran setiap orang,ada yang ingin jadi ini,jadi itu,ada yang kepingin punya ini dan punya itu,ada yang berharap menjadi seperti ini dan itu,ada pula yang maunya begini bukan begitu. Kesemuanya pada hakekatnya adalah ujung pangkal dari semua keinginan itu ialah merasakan hidup yang bahagia.

Sebuah kisah hubungan rumah tangga yang penuh masalah,tiap hari ribut,cekcok sebab masalah sepele hingga yang gede,ada yang sengaja dibuat sebab alasan tertentu,ada juga yang memang datang hingga tak terselamatkan.

Hmmm,btw? Masalah yang sengaja dibuat maksudnya apa ya? Banyaklah dieekitar kita,contoh nya saja dalam sebuah rumah tangga,seringkali muncul masalah yang dilatarbelakangi perselingkuhan misalnya,padahal rumah tangga mereka baik-baik saja dll,serba tercukipi segala apapun tapi kadang muncul persoalan lain yang justru menurut saya bukan hal pokok yang penting untuk dilakukan apalagi oleh seseorang yang telah berumah tangga,memiliki anak dan keluarga,terkecuali mungkin berstatus single,tapi yang terjadi justru sebaliknya,mereka harus dipisahkan oleh persoalan ego dan nafsu lalu mengorbankan keluarga padahal menjalani kehidupan ini bisa dengan sangat sederhana kok dengan rasa tetap luar biasa namun ya kembali lagi,setiap manusia lan memang memiliki kadar masing-mading dalam urusan rasa,ada yang bisa me manage nya ada juga yang tidak mampu mengelolanya. Entah mungkin hanya gue aja yang pikiran nya seperti ini,tapi saya yakin kok banyak orang didunia ini mampu mengelola hati dan perasaannya dari hal-hal yang tidak terlalu harus bergejolak up dalam mencari makna bahagia,artinya bahwa apa yang kita punyai saat ini lebih kita syukuri,terlebih jika kita mampu memaafkan kesalahan-kesalahan pasangan untuk tidak dibalas dengan hal yang sama tapi duduk bersama,berbicara heart to heart,setelah semua itu dibuka seterbuka mungkin,lalu disadari dan harus ada rasa penyesalan demi sebuah perubahan dan keutuhan yang telah ada maka masalah yang lebih tidak bisa didugga itu tidak akan terjadi,saya yakin dengan sedikit tersisa cinta yang kamu punya padanya,akan bisa menyelamatkan segala kemungkinan yang bisa membawa kejalan kehancuran,demi cita,cinta dan harapan.

Pikirkan dulu,lihat kembali mata dan wajah putera-puterimu,lalu ingat kembali,dahulu kalian dipersatukan oleh cinta bukan??? Jika hari ini rasa itu mulai menipis tak setebal dulu,rasamupun mulai habis dikarenakan chemistery itu kian habis terkuak,apakah kamu akan seperti kumbang yang hinggap begitu lama didedahanan hanya karena madu yang manis lalu terbang setelahnya kenyang?! Tidak bukan seban kita bukan kumbang dan madu,kita adalah manusia yang boleh saja menepi sesaat tapi bukan untuk menetap melainkan untuk berpikir dan mencari solusi dari segala kepenatan yang ada dari segala persoalan yang ada. Pulanglaah,kembalikan pikiranmu kelajur yang sepantasnya,walu kau mampu menggandeng pria idaman lain tak kan membuatmu hebat dimata orang walau kau mampu merangkul wanita lain yang lebih cantik dari pasanganmu tak akan menjadikanmu seorang lelaki jantan. Pulanglah,kembali dan bicarakan dengan baik-baik,hadapi dan dengarkan kenyataan terburuk hingga terbaik jika semua itu telah benar-benar dibicarakan dan solusi dan pemecahan telah diketemukan dan disepakati oleh keduanya maka semua hal menjadi keputusan keduanya tetapi akhiri dengan benar bukan dengan lari dari tanggung jawab dan kenyataan hanya demi sebuah ego dan rasa.

Apakah masih ada sedikit saja rasa cintamu padanya?

Jika iya,maka dengan yang sedikit itu akan mampu menyelematakan segala kemungkinan walau hanya tersisa sedikit meski rasa sakit dan rasa benci begitu besar tetapi berupayalah sebentar siapa tahu ini cara Allah mengujimu

Suku Baduy Banten Indonesia

Urang Kanekes, Orang Kanekes atau Orang Baduy/Badui merupakan kelompok etnis masyarakat adat suku Banten di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Populasi mereka sekitar 26.000 orang, dan mereka merupakan salah satu suku yang mengisolasi diri mereka dari dunia luar. Selain itu mereka juga memiliki keyakinan tabu untuk didokumentasikan, khususnya penduduk wilayah Baduy Dalam.

Kanekes
Baduy/Badui

Urang Kanekes pada acara Seba Baduy 2017
Jumlah populasi
26.000 Jiwa[1]

Kawasan dengan konsentrasi signifikan
Kanekes, Banten, Indonesia
Bahasa
Baduy, Banten
Agama
Islam (60%), Sunda Wiwitan (40%)[1]
Kelompok etnik terdekat
Banten, Sunda
Sensus Penduduk tahun 2010
Sunting
Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2010 oleh Badan Pusat Statistik Indonesia, Suku Baduy bersama Suku Banten dikelompokan ke dalam Suku asal Banten dengan total jumlah 4.657.784 jiwa.

Etimologi
Sunting
Sebutan “Baduy” merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau “orang Kanekes” sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo (Garna, 1993).

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, penulisan yang tepat adalah “Badui” dan bukan “Baduy”.

Wilayah
Sunting
Wilayah Kanekes secara geografis terletak pada koordinat 6°27’27” – 6°30’0” LS dan 108°3’9” – 106°4’55” BT (Permana, 2001). Mereka bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung. Wilayah yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng dengan ketinggian 300 – 600 m di atas permukaan laut (DPL) tersebut mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45%, yang merupakan tanah vulkanik (di bagian utara), tanah endapan (di bagian tengah), dan tanah campuran (di bagian selatan). suhu rata-rata 20 °C.

Tiga desa utama orang Kanekes Dalam adalah Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo.

Bahasa
Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah. Orang Kanekes Dalam tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat-istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja.

Orang Kanekes tidak mengenal sekolah, karena pendidikan formal berlawanan dengan adat-istiadat mereka. Mereka menolak usulan pemerintah untuk membangun fasilitas sekolah di desa-desa mereka. Bahkan hingga hari ini, walaupun sejak era Soeharto pemerintah telah berusaha memaksa mereka untuk mengubah cara hidup mereka dan membangun fasilitas sekolah modern di wilayah mereka, orang Kanekes masih menolak usaha pemerintah tersebut. Akibatnya, mayoritas orang Kanekes tidak dapat membaca atau menulis.

Kelompok masyarakat

Orang Kanekes pada tahun 2010
Orang Kanekes memiliki hubungan sejarah dengan orang Sunda. Penampilan fisik dan bahasa mereka mirip dengan orang-orang Sunda pada umumnya. Satu-satunya perbedaan adalah kepercayaan dan cara hidup mereka. Orang Kanekes menutup diri dari pengaruh dunia luar dan secara ketat menjaga cara hidup mereka yang tradisional, sedangkan orang Sunda lebih terbuka kepada pengaruh asing dan mayoritas memeluk Islam.

Masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtu, panamping, dan dangka (Permana, 2001).

Kelompok tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Kanekes Dalam (Baduy Dalam), yang paling ketat mengikuti adat, yaitu warga yang tinggal di tiga kampung: Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik. Ciri khas Orang Kanekes Dalam adalah pakaiannya berwarna putih alami dan biru tua (warna tarum) serta memakai ikat kepala putih. Mereka dilarang secara adat untuk bertemu dengan orang asing.

Kanekes Dalam adalah bagian dari keseluruhan orang Kanekes. Tidak seperti Kanekes Luar, warga Kanekes Dalam masih memegang teguh adat-istiadat nenek moyang mereka.

Sebagian peraturan yang dianut oleh suku Kanekes Dalam antara lain:

Tidak diperkenankan menggunakan kendaraan untuk sarana transportasi
Tidak diperkenankan menggunakan alas kaki
Pintu rumah harus menghadap ke utara/selatan (kecuali rumah sang Pu’un atau ketua adat)
Larangan menggunakan alat elektronik (teknologi)
Menggunakan kain berwarna hitam/putih sebagai pakaian yang ditenun dan dijahit sendiri serta tidak diperbolehkan menggunakan pakaian modern.
Kelompok masyarakat kedua yang disebut panamping adalah mereka yang dikenal sebagai Kanekes Luar (Baduy Luar), yang tinggal di berbagai kampung yang tersebar mengelilingi wilayah Kanekes Dalam, seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya. Masyarakat Kanekes Luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna biru gelap (warna tarum).

Kanekes Luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Kanekes Dalam. Ada beberapa hal yang menyebabkan dikeluarkannya warga Kanekes Dalam ke Kanekes Luar:

Mereka telah melanggar adat masyarakat Kanekes Dalam.
Berkeinginan untuk keluar dari Kanekes Dalam
Menikah dengan anggota Kanekes Luar
Ciri-ciri masyarakat orang Kanekes Luar

Mereka telah mengenal teknologi, seperti peralatan elektronik.
Proses pembangunan rumah penduduk Kanekes Luar telah menggunakan alat-alat bantu, seperti gergaji, palu, paku, dll, yang sebelumnya dilarang oleh adat Kanekes Dalam
Menggunakan pakaian adat dengan warna hitam atau biru tua (untuk laki-laki), yang menandakan bahwa mereka tidak suci. Kadang menggunakan pakaian modern seperti kaos oblong dan celana jeans.
Menggunakan peralatan rumah tangga modern, seperti kasur, bantal, piring & gelas kaca & plastik.
Mereka tinggal di luar wilayah Kanekes Dalam.
Sebagian di antara mereka telah terpengaruh dan berpindah agama menjadi seorang muslim dalam jumlah cukup signifikan.
Apabila Kanekes Dalam dan Kanekes Luar tinggal di wilayah Kanekes, maka “Kanekes Dangka” tinggal di luar wilayah Kanekes, dan pada saat ini tinggal 2 kampung yang tersisa, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam). Kampung Dangka tersebut berfungsi sebagai semacam buffer zone atas pengaruh dari luar (Permana, 2001).

Asal usul

Delegasi Kanekes sekitar tahun 1920
Menurut kepercayaan yang mereka anut, orang Kanekes mengaku keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Menurut kepercayaan mereka, Adam dan keturunannya, termasuk warga Kanekes mempunyai tugas bertapa atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia.

Pendapat mengenai asal usul orang Kanekes berbeda dengan pendapat para ahli sejarah, yang mendasarkan pendapatnya dengan cara sintesis dari beberapa bukti sejarah berupa prasasti, catatan perjalanan pelaut Portugis dan Tiongkok, serta cerita rakyat mengenai ‘Tatar Sunda’ yang cukup minim keberadaannya. Masyarakat Kanekes dikaitkan dengan Kerajaan Sunda yang sebelum keruntuhannya pada abad ke-16 berpusat di Pakuan Pajajaran (sekitar Bogor sekarang). Sebelum berdirinya Kesultanan Banten, wilayah ujung barat pulau Jawa ini merupakan bagian penting dari Kerajaan Sunda. Banten merupakan pelabuhan dagang yang cukup besar. Sungai Ciujung dapat dilayari berbagai jenis perahu, dan ramai digunakan untuk pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. Dengan demikian penguasa wilayah tersebut, yang disebut sebagai Pangeran Pucuk Umun menganggap bahwa kelestarian sungai perlu dipertahankan. Untuk itu diperintahkanlah sepasukan tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan dengan tugasnya yang khusus tersebut tampaknya menjadi cikal bakal Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu Sungai Ciujung di Gunung Kendeng tersebut (Adimihardja, 2000). Perbedaan pendapat tersebut membawa kepada dugaan bahwa pada masa yang lalu, identitas dan kesejarahan mereka sengaja ditutup, yang mungkin adalah untuk melindungi komunitas Kanekes sendiri dari serangan musuh-musuh Pajajaran.

Van Tricht, seorang dokter yang pernah melakukan riset kesehatan pada tahun 1928, menyangkal teori tersebut. Menurut dia, orang Kanekes adalah penduduk asli daerah tersebut yang mempunyai daya tolak kuat terhadap pengaruh luar (Garna, 1993b: 146). Orang Kanekes sendiri pun menolak jika dikatakan bahwa mereka berasal dari orang-orang pelarian dari Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda. Menurut Danasasmita dan Djatisunda (1986: 4-5) orang Baduy merupakan penduduk setempat yang dijadikan mandala’ (kawasan suci) secara resmi oleh raja, karena penduduknya berkewajiban memelihara kabuyutan (tempat pemujaan leluhur atau nenek moyang), bukan agama Hindu atau Budha. Kebuyutan di daerah ini dikenal dengan kabuyutan Jati Sunda atau ‘Sunda Asli’ atau Sunda Wiwitan (wiwitan=asli, asal, pokok, jati). Oleh karena itulah agama asli mereka pun diberi nama Sunda Wiwitan.

Lukisan seorang Baduy di Rijksmuseum Amsterdam sekitar tahun 1816 – 1846
Kepercayaan

Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut sebagai ajaran Sunda Wiwitan, ajaran leluhur turun temurun yang berakar pada penghormatan kepada karuhun atau arwah leluhur dan pemujaan kepada roh kekuatan alam (animisme). Meskipun sebagian besar aspek ajaran ini adalah asli tradisi turun-temurun, pada perkembangan selanjutnya ajaran leluhur ini juga sedikit dipengaruhi oleh beberapa aspek ajaran Hindu, Buddha, dan di kemudian hari ajaran Islam.

Bentuk penghormatan kepada roh kekuatan alam ini diwujudkan melalui sikap menjaga dan melestarikan alam; yaitu merawat alam sekitar (gunung, bukit, lembah, hutan, kebun, mata air, sungai, dan segala ekosistem di dalamnya), serta memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada alam, dengan cara merawat dan menjaga hutan larangan sebagai bagian dalam upaya menjaga keseimbangan alam semesta. Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes (Garna, 1993). Isi terpenting dari ‘pikukuh’ (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep “tanpa perubahan apa pun”, atau perubahan sesedikit mungkin:

Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung.
(Panjang tidak bisa/tidak boleh dipotong, pendek tidak bisa/tidak boleh disambung)

Tabu tersebut dalam kehidupan sehari-hari diinterpretasikan secara harafiah. Di bidang pertanian, bentuk pikukuh tersebut adalah dengan tidak mengubah kontur lahan bagi ladang, sehingga cara berladangnya sangat sederhana, tidak mengolah lahan dengan bajak, tidak membuat terasering, hanya menanam dengan tugal, yaitu sepotong bambu yang diruncingkan. Pada pembangunan rumah juga kontur permukaan tanah dibiarkan apa adanya, sehingga tiang penyangga rumah Kanekes seringkali tidak sama panjang. Perkataan dan tindakan mereka pun jujur, polos, tanpa basa-basi, bahkan dalam berdagang mereka tidak melakukan tawar-menawar.

Objek kepercayaan terpenting bagi masyarakat Kanekes adalah Arca Domas, yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. Orang Kanekes mengunjungi lokasi tersebut untuk melakukan pemujaan setahun sekali pada bulan Kalima, yang pada tahun 2003 bertepatan dengan bulan Juli. Hanya Pu’un atau ketua adat tertinggi dan beberapa anggota masyarakat terpilih saja yang mengikuti rombongan pemujaan tersebut. Di kompleks Arca Domas tersebut terdapat batu lumpang yang menyimpan air hujan. Apabila pada saat pemujaan ditemukan batu lumpang tersebut ada dalam keadaan penuh air yang jernih, maka bagi masyarakat Kanekes itu merupakan pertanda bahwa hujan pada tahun tersebut akan banyak turun, dan panen akan berhasil baik. Sebaliknya, apabila batu lumpang kering atau berair keruh, maka merupakan pertanda kegagalan panen (Permana, 2003a).

Bagi sebagian kalangan, berkaitan dengan keteguhan masyarakatnya, kepercayaan yang dianut masyarakat adat Kanekes ini mencerminkan kepercayaan keagamaan masyarakat Sunda secara umum sebelum masuknya Islam.

Pemerintahan
Sunting
Masyarakat Kanekes mengenal dua sistem pemerintahan, yaitu sistem nasional, yang mengikuti aturan negara Indonesia, dan sistem adat yang mengikuti adat istiadat yang dipercaya masyarakat. Kedua sistem tersebut digabung atau diakulturasikan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi benturan. Secara nasional, penduduk Kanekes dipimpin oleh kepala desa yang disebut sebagai jaro pamarentah, yang ada di bawah camat, sedangkan secara adat tunduk pada pimpinan adat Kanekes yang tertinggi, yaitu “Pu’un”.

Struktur pemerintahan Kanekes
Pemimpin adat tertinggi dalam masyarakat Kanekes adalah “Pu’un” yang ada di tiga kampung tangtu. Jabatan tersebut berlangsung turun-temurun, namun tidak otomatis dari bapak ke anak, melainkan dapat juga kerabat lainnya. Jangka waktu jabatan Pu’un tidak ditentukan, hanya berdasarkan pada kemampuan seseorang memegang jabatan tersebut.

Mata pencaharian

Sebagaimana yang telah terjadi selama ratusan tahun, maka mata pencaharian utama masyarakat Kanekes adalah bertani padi huma. Selain itu mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual buah-buahan yang mereka dapatkan di hutan seperti durian dan asam keranji, serta madu hutan.

Interaksi dengan masyarakat luar

Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang ini ketat mengikuti adat-istiadat bukan merupakan masyarakat terasing, terpencil, ataupun masyarakat yang terisolasi dari perkembangan dunia luar. Berdirinya Kesultanan Banten yang secara otomatis memasukkan Kanekes ke dalam wilayah kekuasaannya pun tidak lepas dari kesadaran mereka. Sebagai tanda kepatuhan/pengakuan kepada penguasa, masyarakat Kanekes secara rutin melaksanakan seba ke Kesultanan Banten (Garna, 1993). Sampai sekarang, upacara seba tersebut terus dilangsungkan setahun sekali, berupa menghantar hasil bumi (padi, palawija, buah-buahan) kepada Gubernur Banten (sebelumnya ke Gubernur Jawa Barat), melalui bupati Kabupaten Lebak. Di bidang pertanian, penduduk Kanekes Luar berinteraksi erat dengan masyarakat luar, misalnya dalam sewa-menyewa tanah, dan tenaga buruh.

Perdagangan yang pada waktu yang lampau dilakukan secara barter, sekarang ini telah mempergunakan mata uang rupiah biasa. Orang Kanekes menjual hasil buah-buahan, madu, dan gula kawung/aren melalui para tengkulak. Mereka juga membeli kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar. Pasar bagi orang Kanekes terletak di luar wilayah Kanekes seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger.

Pada saat ini orang luar yang mengunjungi wilayah Kanekes semakin meningkat sampai dengan ratusan orang per kali kunjungan, biasanya merupakan remaja dari sekolah, mahasiswa, dan juga para pengunjung dewasa lainnya. Mereka menerima para pengunjung tersebut, bahkan untuk menginap satu malam, dengan ketentuan bahwa pengunjung menuruti adat-istiadat yang berlaku di sana. Aturan adat tersebut antara lain tidak boleh berfoto di wilayah Kanekes Dalam, tidak menggunakan sabun atau odol di sungai. Namun, wilayah Kanekes tetap terlarang bagi orang asing (non-WNI). Beberapa wartawan asing yang mencoba masuk sampai sekarang selalu ditolak masuk.

Pada saat pekerjaan di ladang tidak terlalu banyak, orang Kanekes juga senang berkelana ke kota besar sekitar wilayah mereka dengan syarat harus berjalan kaki. Pada umumnya mereka pergi dalam rombongan kecil yang terdiri dari 3 sampai 5 orang, berkunjung ke rumah kenalan yang pernah datang ke Kanekes sambil menjual madu dan hasil kerajinan tangan. Dalam kunjungan tersebut biasanya mereka mendapatkan tambahan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Raja Ampat Papua Indonesia (Surga CiptaanNya)

Kepulauan Raja Ampat

Panorama
Kepulauan Raja Ampat merupakan rangkaian empat gugusan pulau yang berdekatan dan berlokasi di barat bagian Kepala Burung (Vogelkoop) Pulau Papua. Secara administrasi, gugusan ini berada di bawah Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Kepulauan ini sekarang menjadi tujuan para penyelam yang tertarik akan keindahan pemandangan bawah lautnya. Empat gugusan pulau yang menjadi anggotanya dinamakan menurut empat pulau terbesarnya, yaitu Pulau Waigeo, Pulau Misool, Pulau Salawati, dan Pulau Batanta.

Asal usul dan sejarah

Asal mula nama Raja Ampat menurut mitos masyarakat setempat berasal dari seorang wanita yang menemukan tujuh telur. Empat butir di antaranya menetas menjadi empat orang pangeran yang berpisah dan masing-masing menjadi raja yang berkuasa di Waigeo, Salawati, Misool Timur dan Misool Barat. Sementara itu, tiga butir telur lainnya menjadi hantu, seorang wanita, dan sebuah batu.

Dalam perjalanan sejarah, wilayah Raja Ampat telah lama dihuni oleh masyarakat bangsawan dan menerapkan sistem adat Maluku. Dalam sistem ini, masyarakat sekumpulan manusia. Tiap desa dipimpin oleh seorang raja. Semenjak berdirinya lima kesultanan muslim di Maluku, Raja Ampat menjadi bagian klaim dari Kesultanan Tidore. Setelah Kesultanan Tidore takluk dari Belanda, Kepulauan Raja Ampat menjadi bagian klaim Hindia Belanda.

Masyarakat

Masyarakat Kepulauan Raja Ampat umumnya nelayan tradisional yang berdiam di kampung-kampung kecil yang letaknya berjauhan dan berbeda pulau. Mereka adalah masyarakat yang ramah menerima tamu dari luar, apalagi kalau kita membawa oleh-oleh buat mereka berupa pinang ataupun permen. Barang ini menjadi semacam ‘pipa perdamaian indian’ di Raja Ampat. Acara mengobrol dengan makan pinang disebut juga “Para-para Pinang” seringkali bergiliran satu sama lain saling melempar mob, istilah setempat untuk cerita-cerita lucu.

Mereka adalah pemeluk Islam dan Kristen dan seringkali di dalam satu keluarga atau marga terdapat anggota yang memeluk salah satu dari dua agama tersebut. Hal ini menjadikan masyarakat Raja Ampat tetap rukun walaupun berbeda keyakinan.

Kekayaan sumber daya alam
Sunting
Kepulauan Raja Ampat merupakan tempat yang sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai objek wisata, terutama wisata penyelaman. Perairan Kepulauan Raja Ampat menurut berbagai sumber, merupakan salah satu dari 10 perairan terbaik untuk diving site di seluruh dunia. Bahkan, mungkin juga diakui sebagai nomor satu untuk kelengkapan flora dan fauna bawah air pada saat ini.

Dr. John Veron, ahli karang berpengalaman dari Australia, misalnya, dalam sebuah situs ia mengungkapkan, Kepulauan Raja Ampat yang terletak di ujung paling barat Pulau Papua, sekitar 50 mil sebelah barat laut Sorong, mempunyai kawasan karang terbaik di Indonesia. Sekitar 450 jenis karang sempat diidentifikasi selama dua pekan penelitian di daerah itu.

Tim ahli dari Conservation International, The Nature Conservancy, dan Lembaga Oseanografi Nasional (LON) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pernah melakukan penilaian cepat pada 2001 dan 2002. Hasilnya, mereka mencatat di perairan ini terdapat lebih dari 540 jenis karang keras (75% dari total jenis di dunia), lebih dari 1.000 jenis ikan karang, 700 jenis moluska, dan catatan tertinggi bagi gonodactyloid stomatopod crustaceans. Ini menjadikan 75% spesies karang dunia berada di Raja Ampat. Tak satupun tempat dengan luas area yang sama memiliki jumlah spesies karang sebanyak ini.

Ada beberapa kawasan terumbu karang yang masih sangat baik kondisinya dengan persentase penutupan karang hidup hingga 90%, yaitu di selat Dampier (selat antara Pulau Waigeo dan Pulau Batanta), Kepulauan Kofiau, Kepualauan Misool Tenggara dan Kepulauan Wayag. Tipe dari terumbu karang di Raja Ampat umumnya adalah terumbu karang tepi dengan kontur landai hingga curam. Tetapi ditemukan juga tipe atol dan tipe gosong atau taka. Di beberapa tempat seperti di kampung Saondarek, ketika pasang surut terendah, bisa disaksikan hamparan terumbu karang tanpa menyelam dan dengan adaptasinya sendiri, karang tersebut tetap bisa hidup walaupun berada di udara terbuka dan terkena sinar matahari langsung.

Spesies yang unik yang bisa dijumpai pada saat menyelam adalah beberapa jenis kuda laut katai, wobbegong, dan ikan pari Manta. Juga ada ikan endemik raja ampat, yaitu Eviota raja, yaitu sejenis ikan gobbie. Di Manta point yg terletak di Arborek selat Dampier, Anda bisa menyelam dengan ditemani beberapa ekor Pari Manta yang jinak seperti ketika Anda menyelam di Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Jika menyelam di Cape Kri atau Chicken Reef, Anda bisa dikelilingi oleh ribuan ikan. Kadang kumpulan ikan tuna, giant trevallies dan snappers. Tapi yang menegangkan jika kita dikelilingi oleh kumpulan ikan barakuda, walaupun sebenarnya itu relatif tidak berbahaya (yang berbahaya jika kita ketemu barakuda soliter atau sendirian). Hiu karang juga sering terlihat, dan kalau beruntung Anda juga bisa melihat penyu sedang diam memakan sponge atau berenang di sekitar anda. Di beberapa tempat seperti di Salawati, Batanta dan Waigeo juga terlihat Dugong atau ikan duyung.

Karena daerahnya yang banyak pulau dan selat sempit, maka sebagian besar tempat penyelaman pada waktu tertentu memiliki arus yang kencang. Hal ini memungkinkan juga untuk melakukan drift dive, menyelam sambil mengikuti arus yang kencang dengan air yang sangat jernih sambil menerobos kumpulan ikan.

Peninggalan prasejarah dan sejarah
Sunting
Di kawasan gugusan Misool ditemukan peninggalan prasejarah berupa cap tangan yang diterakan pada dinding batu karang. Uniknya, cap-cap tangan ini berada sangat dekat dengan permukaan laut dan tidak berada di dalam gua. Menurut perkiraan, usia cap-cap tangan ini sekitar 50.000 tahun dan menjadi bagian dari rangkaian petunjuk jalur penyebaran manusia dari kawasan barat Nusantara menuju Papua dan Melanesia.

Sisa pesawat karam peninggalan Perang Dunia II bisa dijumpai di beberapa tempat penyelaman, seperti di Pulau Wai.

Pariwisata
Sunting
Raja Ampat dapat dicapai dengan pesawat dari Jakarta atau Bali ke Sorong via Makassar atau Ambon dan Manado. Penerbangan memakan waktu kurang lebih 6 jam.

Dari Sorong, untuk ke Raja Ampat ada dua cara:

Ikut tur dengan perahu pinisi atau
Tinggal di resort Raja Ampat Dive Lodge.
Kebanyakan wisatawan yang datang ke Raja Ampat saat ini adalah para penyelam. Untuk yang bukan penyelam ada sejumlah pantai berpasir putih, gugusan pulau karst dan flora dan fauna endemik seperti cendrawasih merah, cendrawasih Wilson, maleo waigeo, beraneka burung kakatua dan nuri, kuskus waigeo, serta beragam jenis anggrek.

Ancaman terhadap kepulauan ini
Sunting
Kekayaan keanekaragaman hayati di Raja Ampat telah membuat dirinya memiliki tingkat ancaman yang tinggi pula. Hal itu bisa dilihat dari kerusakan terumbu karang dan hutan. Kerusakan terumbu karang umumnya adalah karena aktivitas penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan seperti bom, sianida dan akar bore (cairan dari olahan akar sejenis pohon untuk meracun ikan).

Usaha-usaha konservasi
Sunting
Untuk menjaga kelestarian bawah laut Kepulauan Raja Ampat, usaha-usaha konservasi sangat diperlukan di daerah ini. Ada dua lembaga internasional yang konsen terhadap kelestarian sumber daya alam Raja Ampat, yaitu CI (Conservation International) dan TNC (The Nature Conservancy). Pemerintah sendiri telah menetapkan laut sekitar Waigeo Selatan, yang meliputi pulau-pulau kecil seperti Gam, Mansuar, kelompok Yeben dan kelompok Batang Pele, telah disahkan sebagai Suaka Margasatwa Laut. Menurut SK Menhut No. 81/KptsII/1993, luas wilayah ini mencapai 60.000 hektare.

Selain itu, beberapa kawasan laut lainnya telah diusulkan untuk menjadi kawasan konservasi. Masing-masing adalah Suaka Margasatwa Laut Pulau Misool Selatan, laut Pulau Kofiau, laut Pulau Asia, laut Pulau Sayang dan laut Pulau Ayau.

Sumber Google

Jangan

Hari kian bergulir
Semakin dekat dirimu di hatiku
Meskipun tak terucapkan
‘Ku merasakan dalamnya cintamu
Jangan berhenti mencintaiku
Meski mentari berhenti bersinar
Jangan berubah sedikit pun
Di dalam cintamu kutemukan bahagia

Jalan mungkin berliku
Takkan lelah bila di sampingmu
Semakin ‘ku mengenalmu
Jelas terlihat pintu masa depan
Jangan berhenti mencintaiku
Meski mentari berhenti bersinar
Jangan berubah sedikit punDi dalam cintamu kutemukan bahagia
Semoga tiada berhenti
Bersemi selamanya
Jangan…

Aku Lelah

Sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya segala apa yang kita rasakan,rasa lelah yang hampir memenuhi seisi kepalaku,Aku lelah.

Ingin rasanya menangis dan tak terasa itu terjadi,aku merasakan mata digenang air,airmataku sendiri.

Aku tak ingin terlihat cengeng,maka kutahan dalam dekapan.

Aku ingin sampaikan ini khususnya pada ibuku orang yang selalu akan memikirkan kehidupanku,yang selalu menanti dan mencariku saat aku belum pulang atau sesaat menghilang tanpa memberi alasan.

Dan aku ingin mengatakan ini semua padanya, bu aku lelah….

Tapi aku takut saat itu terdengar olehnya.

Aku takut ibuku menangkap sesuatu hal yang membebani pikirannya,bahwa lelahku diambang batas.

Aku tak ingin membuatnya terenyuh dan bertanya tanpa tanya.

Kemarin aku terjatuh dari motor,entahlah,padahal aku tak sedang melamun saat diatas motor kemarin itu,kaget melihat karet pembatas yang tak aku lihat dikejauhan akhirnya motorku goyah aku tak sanggup menahan rem dengan sempurna,dengan terpaksa kutabrak karet pembatas itu dan aku kehilangan keseimbangan dan jatuh.

Buru-buru aku bangun dan berdiri,aku kawatir ada orang berhenti menghampiriku dijembatan itu sore kemaren sebab kaget dll. Dengan kaki lecet,perasaanku kaget,aku menghidupkan motorku kembali,tawaran baik dan permintaan maaf dari pekerja jalanpun aku terima namun niatnya untuk memberiku konpensasi uang untuk berobat kutolak dan kuucapkan terim kasih,aku menyadari bahwa ini bukan salahnya,mungkin ini hari apesku saja,aku tak ingin menyalahkannya.

Sesampainya dirumah,aku merebahkan badanku ditempat tidur,aku merasakan lelah dan tak lama suara orang memanggilku diluar rupanya tetanggaku yang sudah janji akan kerumah,tanpa sadar aku cerita kalo aku habis jatoh dari motor dan ibuku mendengarnya,ia nampak kaget dan menyuruhku dipijit dan berobat,kujawab tidak apa-apa dan gak kenapa-napa,tapi selang beberapa menit,ibuku membawa kantong plastik hitam berisi obat dan bethadine,ternyata ibuku ke klinik kakakku meminta obat untukku. Hufjjh aku seketika sedih,dengan raga yang sudah rapuh ibuku melangkahkan kakinya mencarikan aku obat,demi cinta dan sayangnya padaku anaknya ia teramat kawatir akan keadaanku. Terima kasih ibu,engkau adalah alasan terberatku dalam banyak hal yang tak bisa aku jelaskan kepada siapapun. I love you ibu♥️✊

Hari ini,kemarin dan esok

Hidup yang kita jalani dan lewati setiap harinya memberi kita banyak cerita disetiap harinya,ada sedih,ada senang,ada suka,kadangpun ada duka dan itu hal yang pasti terjadi pada setiap diri manusia.

Bangun dipagi hari,membuka mata,bergegas mandi,berpakaian,memoles diri didepan cermin,se seleseinya dari itu,kita bergegas keluar rumah memburu waktu agar bisa sampai ditujuan sesuai target yang diharapkan,setiap hari kita lakukan itu,kita melakukan berbagai aktivitas dalam rutinitas kita setiap harinya,ada yang berburu pembeli dipasar-pasar,ada yang berjibaku mengais pasir dan batu,ada yang siap dengan jaket dan penutup kepala nongkrong dipangkalan menanti sipencari jasa kendaraan,dengan sabar semua itu dilakukan,menunggu dan terus menunggu,berharap rejeki itu datang dari mereka-mereka pencari jasa kita,ada yang sibuk dalal rutinitasnya diruangan ber AC,duduk rapi nan manis,lengkap dengan peralatan kerja,ya komputer,balpoint dan lain-lain,macam-macam serta beragam aktivitas dan rutinitas manusia dimuka bumi ini,siapa menyerah dia pasti kalah,kalah oleh rasanya sendiri. Jangakan kerja,duduk santay setiap hari saja bisa melelahkan,jadi kembali lagi bahwa semua hal didunia ini rasanya sama saja,semua hal ada plus minusnya.

Apa ceritamu dihari ini?????

Aku berdoa semoga harimu selalu baik,always be happy,selalu bisa tersenyum walau kenyataan tak semanis senyumanmu,namun tetaplah tersenyum sebab itu adalah immun

Bersabarlah,berdoalah,berserahlah,yakin bahwa segala upaya kita,ikhtiar kita,hasil kita akan menjadi pertimbanganNya dan IA adalah penetap dari segala ketetapan apapun